SEJARAH DESA

Pada zaman dahulu kontur tanah wilayah Desa Cekok tidaklah rata bentuknya mencekung seperti tempurung kelapa, banyak terdapat cekungan yang jika terisi air hujan menjadi rawa yang berair keruh, akibatnya banyak wabah penyakit yang menyerang masayarakat desa. Akhirnya warga berinisiatif untuk menggempur tanah yang cekung bias tertutup. Setelah permukaan tanah berhasil diratakan wabah penyakit tetap semakin menyebar , banyak masyarakat yang meninggal dunia, masyarakat desa yang pada saat itu telah memeluk agama islam kemudian berikhtiar untuk meminta kesembuhan.

Suatu har8i datanglah musyafir arab yang bernama Iwan yang nantinya oleh masyrakat Desa Cekok dikenal dengan nama Tuan Dhosol dating ke kadipaten Pramanaraga (nama Kabupaten Ponorogo pada pemerintahan Bathoro Katong Bupati Pertama Ponorogo) Setelah sowan kepada Bathoro Katong dan meminta izin untuk tinggal , Bathoro Katong mengizinkan Iwan untuk memilih hwilayah di Kadipaten yang dipimpin yang sekiranya Iwan merasa nyaman untuk ditinggali.

Iwan memilih untuk tinggal di desa yang sedang terserang wabah penyakit tersebut. Pada saat itu penyakit yang menyerang masyarakat semakin parah, belum ada dokter, yang ada hanya dukun tradisional, neamun belum bias menyembuhkan wabah penyakit tersebut. Iwan yang dianggap sebagai orang pintar oleh masyarakat kemudian diminta tolong untuk mengobati, lalu Iwan memberikan ramuan yang ia racik sendiri dengan cara memasukkan ramuan obat tersebut ke dalam sehelai kain kecil yang kemudian dimasukkan kedalam mulut pasien, cara pengobatan tersebut disebut “dicekoki”. Dari pengobatan Iwan tersebut masyarakat yang terkena wabah penyakit mendapatkan kesembuhan.

Im bereich der medizin werden in der regel abschlüsse nach dem modell der equitable genau hier licences angestrebt.